Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Thursday, April 10, 2014

catatan 6 Malaikat tanpa Sayap

Malaikat tanpa Sayap

"Punya film Malaikat tanpa Sayap ?"
"Nda…"
Berkali-kali ia menanyakan punya film itu atau tidak. Nyari sampai dapat. Dan hampir setahun baru bisa sempat nonton tu film. Bukan karena penasaran, tapi karena bĂȘte. Jalan ceritanya bagus, dan menguras air mata.
Berawal dari keluarga yang tidak harmonis, mengorbankan sekolah demi mencari biaya rumah sakit untuk si Adik. Dan rela menjual jantung demi biaya si Adik.

Hingga saat-saat menjelang operasi jantung, ia menuliskan surat kepada setiap yang dikasihinya. Sudah tentu jelas, membayangkan saat-saat perpisahan sebelum kematian adalah saat-saat yang sangat menyedihkan. Menulis surat untuk yang terakhir kalinya, mencintai untuk yang terakhir kalinya. Pergi dan tak akan pernah kembali lagi.

Berlanjut....alih-alih rela mengorbankan jantung si Adik, ia lebih rela lagi mengorbankan jantungnya setelah tahu bahwa jantungnya itu rupanya akan didonorkan pada kekasihnya. Akhir cerita, sang ayah yang ditembak oleh selingkuhan Ibunya kemudian mengorbankan jantungnya. Dan seperti biasa, film sinetron Indonesia selalu berakhir bahagia. Ia dan kekasihnya menikah. Dan menjadi keluarga baru. Meski tanpa Ibu. Hidup terus berjalan. 

Sebab, katanya, cinta itu adalah siap ditinggalkan atau siap meninggalkan.

Yup, itu benar. Sebab, di setiap akhir pertemuan hanyalah perpisahan. Tidak ada yang lain.

Maka, apa yang sering membuat kita lupa untuk menerima perpisahan ?

Wednesday, March 26, 2014

Catatan 6 : Muhasabah Kematian

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu dikembalikannya hanya kepada kami.

Bismillahirrahmanirrahiim…
Membicarakan kematian lebih banyak kita dengar di acara ta’ziah dibanding di tempat kerja, sekolah, ataupun di tempat umum. Meski sudah nyata jelas ‘lha wong ta’ziah kan memang untuk orang meninggal..ngapain dibahas di tempat kerja, sekolah atau di tempat umum ?”

Padahal, kapan dan dimanapun kiranya perlu mengingat kematian. Sebab, jika ajal sudah datang menjemput, maka tak akan ada seorang pun yang mampu menolong. Mencari alat canggih pun untuk menolak kematian, tidak akan kita temui. Atau mungkin jika saja ada, yakin-akan ada yang bersusah payah untuk bisa membelinya meski mahal. Menggadaikan mobil, rumah, perusahaan, dan mengorbankan istana sekalipun akan dilakukan untuk menolak kematian. Tapi duhai saudaraku, kematian adalah sebuah kepastian yang tak kita ketahui di tanggal mana ia akan datang. Tak ada tawar menawar. Harta dan materi lainnya sungguh tiada arti.

Sekali lagi, sungguh ia akan datang pada saat-saat yang tidak mengenal waktu. Apakah ia akan datang saat kita sedang keluar rumah, menjelang tidur, saat bercengkrama, saat bergosip, saat marah atau saat kita sedang bersantai. Maka, kiranya apa yang menghalangi kita untuk tidak segera bertaubat jika kematian datang tiba-tiba ?

Mungkin bagi kita kematian adalah hal biasa karena sudah sering kita melihat dan mendengar orang-orang yang mengalami kematian. Tapi kita belum merasakannya, bagaimana jika itu kemudian benar-benar terjadi beberapa detik kemudian, apakah kita masih menganggapnya hal biasa seolah mustahil ?

Maka, sebelum kematian datang menjemput dan selagi masih ada sisa-sisa nafas, menjadilah bersih. Menghapus seluruh kebencian, kedengkian, iri, dendam dan menghindari segala penyakit hati. Serta menjadi sahabat bagi Tuhan dan seluruh makhluk-Nya. Dengan begitu, yakin; Tuhan pun akan memantulkan kebaikanNya kepada kita di dunia dan di akhirat.


By : NN

Catatan 5 ; Bacaan untuk Remaja

 Makmur itu Kalo Gak ada Pacar


Mendengar istilah ‘pacaran’ bukan lagi sesuatu yang lumrah dan terdengar sangat biasa. Anak SD pun sudah mengenalnya. Bahkan anak usia 4 tahun pun juga sudah tahu. Pacaran. Mendengar istilah ini, ada yang merespon positif dan negatif. Sebab, dampak yang ditimbulkannya pun juga bisa menjadi positif dan negatif. Namun demikian, ini tergantung dari persepsi masing-masing. Kita bebas memilih. Hanya saja, yang perlu dipertimbangkan adalah seberapa jauh manfaat dan keburukan yang akan diberikannya. Dan yang paling utama adalah pandai menjaga diri sebelum halal.

Perasaan adalah sebuah anugrah yang diberikan Tuhan untuk merasakan sebuah keindahan. Dan setiap orang memiliki cara sendiri untuk mengekspresikannya.

Awalnya, dari mata turun ke hati lalu kemudian ada hasrat untuk memilki. Sampai bercampur aduklah hati. Sebentar-sebentar merindu, sebentar-sebentar senyum-senyum sendiri, sebentar-sebentar galau dan sebentar-sebentar nangis sampai mata mirip mata panda. Malas makan, kurang tidur, pipi menipis dan badan menjadi kurus. Belum lagi stres, lama-lama strok, hingga nafasnya stop. Ini karena manajemen hati yang kacau.

Makanya, jangan pacaran !” kata seorang jomblowan pada kawannya yang sedang kewalahan mengerjakan tugas pacarnya.
Inilah bukti cintaku, coy! Daripa kau, tidak ada pacarmu. Nda’ laku-laku….!” Balasnya tak mau kalah.
Weh….sadarko, liat mana lebih makmur…badanmu atau badanku ? Itu badanmu kurus ka pacarmu terusji mu-urus.”
Iyo di e…cape’ tonja sebenarnya. Tapi mau mi diapa ka ku-sayang sekali pacarku..?
Kau ji ya. Terserah ! Pacaran tapi nusessa dirimu atau jadi jomblo sampai halal ! Ka kalo memang dia jodohmu itu, biar tidak pacaranko..ketemu jako juga nanti. Jammako susah-susah ladeni terus pacarmu. Antar kesana – kemari, kerjakangi tugasna, temani pi belanja, malam minggu sampe masuk angin. Nda pentinna ja. Liatko saya, nda ada pacarku na sehat wal afiat ja. Makan-tidur teratur, bensin sama pulsa awet, waktu luangku baca buku sama minum kopi.”
Baa…betul. Kau memang kawanku yang paling baik, imut dan cakep. Jadianmaki’ naaah ?!n” Dubrak !!
Haha, deh…kau di’, nda nyangkaku…!

By : NN

Tuesday, January 21, 2014

Satu per satu akan menghilang; pergi

Awalnya, kesunyian adalah taman hening yang mendamaian. Setelah itu, setelah orang-orang menaruh kenangan mereka satu per satu; yang lalu pergi dan menghilang, maka kesunyian bukan lagi taman hening yang mendamaikan, melainkan kegelisahan dan kesibukan menuntaskan rindu yang datang bergilir.

Satu per satu di antara mereka akan pergi dengan meninggalkan foto-foto kenangan. Yang tentunya tidak akan mungkin terulang lagi. Uang tidak akan mampu mengembalikan waktu dan kesempatan.

Yang ingin kusampaikan dengan jujur adalah bahwa kesepian itu sering menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Keinginan selanjutnya adalah 'melupakan' perkara yang menyedihkan. Kemudian, jauh dari orang-orang yang mengecewakan. Meski dengan penuh kesadaran itu tak mungkin terhindarkan, setidaknya mereka tidak berada di dekatku.
Sebuah kepastian, kematian akan datang. Level tertinggi dari sebuah perpisahan. Tak ada yang bisa menghalau dan tak ada yang kuasa menghindarinya.

Duuh…..aku tak mengerti apa yang sedang kukatakan, berbicara kesunyian, kesepian, dan kematian. Padahal aku punya banyak orang-orang terdekat. Mungkin karena mereka tidak sedemikian dekat di jiwaku.

Seperti itulah rasanya perpisahan bila tak lagi sejiwa. Meski raga saling berdekatan, berbicara dan tertawa ala kadarnya, rasanya hambar. Tak lagi di jiwa. Dulunya soulmate. Tapi sekarang tinggal mate-nya (baca : mati) ; tanpa soul.

Tidak menyakitkan, tapi mengecewakan. Rupanya seperti itu akhir dari setiap per-soulmate-an. Rasanya berbeda dengan patah hati.
Menyadari ; akhir dari pertemuan adalah perpisahan, dan setiap perpisahan akan menjadi manis bila ikhlas dan saling memahami dunia masing-masing.
Kesunyian sebelum ada kenangan, itu lebih baik. Sebab, ia tak melahirkan kerinduan pada siapa pun. Mungkin ini hanya persoalan hidup. Bukan tentang kesepian, dan kematian. Bukan pula karena tak mampu menanggung rindu. Bukan juga menyesalkan setiap kenangan. Hanya ingin kesunyian yang indah. Tanpa ada galau yang meracau.

Mungkin juga karena hujan yang selalu bersimbah kenangan di negara manapun (inbox sms sekitar sebulan yang lalu). Bukan soal kematian.

Nn

catatan: Sesuatu yang lain…

Sesuatu yang lain…

Sungguh aneh rupanya hati itu…
Suatu waktu ingin mengungkapkan dengan jujur, namun yang terjadi adalah bungkam tanpa satu kata pun. Suatu waktu ingin memberi hadiah, namun yang terjadi hanyalah menunggu waktu yang tepat.
Karena bungkam, karena tak tepat waktu, hingga yang ada hanyalah nyanyian-nyanyian rindu yang tidak akan pernah sampai, catatan-catatan yang tidak akan pernah dibacanya, dan hadiah yang tersimpan sampai bertahun-tahun. Menyedihkan…
Padahal, dari waktu ke waktu hampir selalu bersama dan pertemuan tak pernah berputus. Sebenarnya tak ada alasan untuk tidak menyampaikan kejujuran hati dengan sebuah hadiah.
Ini sudah sangat terlalu lama. Namun sudah terlanjur jatuh pada "keentahan". Tak ingin lagi ada sakit dan kecewa. Diam dan terus diam…memendam rasa dan menanggung rindu.
Terlanjur menunggu…
Terlanjur menyesakkan..
Terlanjur entah…
Terlanjur sudah…
Namun belum juga berakhir.

Nn

Saturday, November 9, 2013

Surat Terakhir untuk Cinta Pertama

Salam...
Bismillah....Jika masih mungkin engkau bisa kutemui, maka aku ingin skali kembali seperti dulu lagi. Bergembira dan bermain sesuka hati. Tapi itu mustahil, seseorang di sampingmu telah menutup masa lalu itu.
Menulis surat ini dan menyebutmu sebagai cinta pertamaku pun aku sangat sungkan. Bahkan aku tak ingin kau membaca tulisan ini. Oh, sungguh bodohnya aku ini. Menulis surat, tapi tak ingin kau melihatnya.
Ku simpan untuk diriku saja.
Ibarat kehilangan alamat.
Pertemuan terakhir kita, jika aku tak salah ingat; di bangku sekolah SMP. Sampai di titik ini, rasanya tak ada kuasa ingin mengingat kembali yang telah sudah.
Maaf, ini hanya kerinduanku saja. Yang kutahu ini tidaklah pantas. Kusadari ini tidaklah wajar. Dan sangat kupahami bahwa masa lalu adalah masa lalu. Masing-masing kita telah dewasa, jalan hidup kita berbeda. Tapi bagaimanapun, kita pernah ada di setapak yang sama. Setapak taman sekolah.
Sekali lagi maaf, ini hanya kerinduan kecil yang sebentar lagi akan berlalu. Yang kupastikan akan hilang dibawa alunan lagu Agnes Monica – yang sedang kuputar.
".......Bayang-bayangmu di batas senja
Matahari membakar rinduku...."
Agnes Monica : Rindu

Bodoh, ku tahu surat ini tidak akan sampai kepadamu, aku masih saja melanjutkannya. Seolah aku sedang berbicara denganmu, sedang kau mendengarkan tanpa komentar apa pun.
Maka surat ini akan kusimpan untuk diriku saja. Jika kau menemukannya dengan tidak sengaja, dan mengenangku sebagai cinta pertamamu-dengan tidak sengaja pula-saat membaca surat ini, anggap saja ini ini hanya tugas Bahasa Indonesia yang perlu kau contek. Selesai atau tidak selesai, ini harus dikumpul pada guru. Tak perlu serius membacanya. Sekali lagi, anggap saja ini PR. 

Namun perlu kau ketahui, ini adalah surat terakhirku untukmu.

Dari Azizah
Wassalam....

Cara Verval SIMPKB 2017

Salam hangat para guru se-Indonesia, melalui postingan ini kami kembali sharing tentang cara verval guru di situs simpkb, karena banyaknya g...